Tampilkan postingan dengan label Materi Ajar Dosen PAI 2. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Materi Ajar Dosen PAI 2. Tampilkan semua postingan

Selasa, 19 Juli 2016

Perbedaan Antara Zakat Dan Pajak


Berikut ini adalah perbedaan antara zakat dan pajak yang bersumber dari penjelasan Prof. Dr. Abdullah Bin Muhammad At Thayyar, tentang Az Zakat, halaman 75-80, Universitas Islam Imam Muhammad Bin Sa’ud, Riyadh dan diterjemahkan oleh Ustadz M. Dahri. Semoga Bermanfaat.
Berikut ini adalah perbedaan antara zakat dan pajak yang bersumber dari penjelasan Prof. Dr. Abdullah Bin Muhammad At Thayyar, tentang Az Zakat, halaman 75-80, Universitas Islam Imam Muhammad Bin Sa’ud, Riyadh dan diterjemahkan oleh Ustadz M. Dahri. Semoga Bermanfaat.
  • Zakat adalah hak yang wajib pada harta tertentu, untuk orang-orang tertentu, dikeluarkan pada masa tertentu, untuk mendapatkan keridhaan Allah, membersihkan diri, harta serta masyarakat.Sedangkan pajak adalah beban yang ditetapkan pemerintah, yang dikumpulkan sebagai keharusan dan dipergunakan untuk menutupi anggaran umum pada satu segi. Dan pada segi lain, untuk memenuhi tujuan-tujuan perekonomian, kemasyarakatan, politik, serta tujuan-tujuan lainnya yang dicanangkan oleh negara.
  • Zakat ditunaikan dengan maksud ibadah (taqarrub) kepada Allah. Sedangkan nilai (makna) demikian ini tidak terpenuhi pada pajak. Karena pajak hanya bersifat keharusan yang ditetapkan oleh negara.
  • Zakat adalah kewajiban yang ditetapkan langsung kadar ukurannya oleh syari’at, tanpa memberi peluang bagi hawa nafsu dan keinginan pribadi manusia untuk ikut memasuki dalam menetapkannya.Sebaliknya pajak ditetapkan oleh pemerintah, yang kadarnya dapat ditambah kapan saja, manakala pemerintah menginginkannya sesuai kepentingan maslahat pribadi dan masyarakat.
  • Zakat telah ditetapkan tempat penyalurannya oleh syari’at. Bahwa golongan orang yang berhak menerima zakat telah ditetapkan langsung oleh Allah.Adapun pajak hanya dikumpulkan dalam kas negara, dan dibelanjakan menurut kepentingan yang berbeda-beda.
  • Zakat merupakan kewajiban yang sudah ditetapkan dan bersifat kekal selama di bumi ini ada agama Islam dan ada kaum muslimin.Adapun pajak tidak memiliki sifat tetap dan kekekalan; baik dari segi jenisnya, ukuran minimal wajibnya, kadarnya, maupun tempat pembelanjaannya.

Perbedaan Zakat dan Pajak menurut Syariat Islam

Zakat & pajak sebagai beban komulatif. Kewajiban zakat dan kewajiban pajak merupakan kewajiban kewajiban berganda yg tak dapat saling mengganti atau menggugurkan satu sama lain bagi seorang muslim yang kekayaannya mencapai tingkat wajib zakat dan wajib pajak.

Beda dasar hukum antara zakat & pajak. Dasar hukum zakat adalah Al-Qur'an & Sunnah. Sedangkan dasar hukum pajak adalah peraturan perundang-undangan yang dibuat oleh manusia. Beda status hukumnya. Zakat merupakan kewajiban terhadap agama. Sedangkan pajak merupakan kewajiban terhadap negara. Beda obyek/sasarannya. Wajib zakat adalah khusus untuk masyarakat yang beragama Islam, pajak adalah bagi semua penduduk tanpa melihat agamanya.

Beda kreteria antara zakat & pajak. Kekayaan yang terkena zakat & pajak, prosentase & jatuh temponya tidak sama. Misal prosentase penghasilan yang dizakati adalah antara 2.5%-20% tergantung dari jenis usahanya yang sudah ditentukan dasarnya oleh Islam. Sedangkan prosentase yang terkena pajak di Indonesia sekitar 15%-35% & sudah tentu kreteria wajib pajak juga besarnya tarif pajaknya dapat berubah, ini rentan manipulasi data.

Beda tujuan penggunaan antara zakat & pajak. Pos penggunaan zakat hanya boleh digunakan untuk delapan ashnaf yang sudah ditentukan oleh Al-qur'an surat At-Taubah ayat 60. Sedangkan pajak, pos penggunaannya luas & tak jelas targetnya. Al-qur'an surat At-Taubah ayat 60 Artinya : "Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang yang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang untuk jalan Allah, dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan. Sebagai sesuatu ketetapan yang diwajibkan Allah, Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”

Hikmah zakat terutama untuk membersihkan jiwa & harta benda wajib zakat serta untuk meratakan pendapatan di kalangan masyarakakat agar harta tidak hanya dinikmati oleh si kaya saja dan untuk meningkatkan kesejahteraan sosial. Pajak untuk membiayai pembangunan nasional yang tak jelas pertanggungjawabnnya rawan untuk tindak korupsi.

Kewajiban zakat & pajak di indonesia adalah bersifat komulatif. Namun, demi keadilan, orang yang wajib zakat dan pajak hendaknya diberikan kesempatan untuk memilih antara dua alternatif. Pertama, membayar zakat dulu kemudian bukti pengeluaran zakat dapat diperhitungkan untuk mengurangi beban pajaknya. kedua, membayar pajak tidak dapat diperhitungkan untuk mengurangi zakatnya.

Islam tidak membenarkan menumpuk harta dan cabang produksi yang penting bagi masyarakat untuk dikuasai perorangan/individu, kelompok kecil orang kaya saja, dan pemerintahan suatu negara karena mereka dengan penguasaan harta semacam itu dapat berbuat sewenang-wenang sehingga merugikan orang lain terutama masyarakat biasa & orang miskin. Seperti halnya yang terkandung di dalam Al-qur'an, Surat Al-Hasyr ayat 7, artinya "Barang apa yang dirampaskan Allah untuk RasulNya dari pen­duduk negeri-negeri, itu adalah untuk Allah dan untuk Rasul dan untuk kerabat dan anak-anak yatim dan orang-orang miskin dan orang dalam perjalanan; supaya dia jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya di antara kamu. Dan apa yang didatangkan kepada kamu oleh Rasul hendaklah kamu ambil dan apa yang dia larang hendak­lah kamu hentikan; dan takwalah kepada Allah. Sesungguhnya adalah Allah itu sangat keras hukumNya".

Sumber: Masail Diniyah Ijtima'iyah Prof. Drs. H. Masjfuk Zuhdi.


السؤال: ما الفرق بين الزكاة والضرائب ، وهل يجوز فرض هذه الضرائب؟ وهل يجب دفعها؟
Pertanyaan:
“Apa perbedaan antara zakat dengan pajak? Apakah negara diperbolehkan untuk mewajibkan zakat atas rakyatnya? Apakah rakyat berkewajiban untuk membayar zakat?”
الجواب :
الحمد لله
الزكاة ركن من أركان الإسلام ، فرضها الله تعالى على المسلمين الأغنياء تحقيقاً لنوع من التكافل الاجتماعي ، والتعاون والقيام بالمصالح العامة كالجهاد في سبيل الله

Jawaban:
“Zakat adalah salah satu rukun Islam yang Allah wajibkan atas kaum muslimin yang kaya sebagai salah satu bentuk solidaritas sosial dan tolong menolong untuk mewujudkan kepentingan banyak orang semisal jihad di jalan Allah.
وقد قرنها الله تعالى بالصلاة في أكثر من آية ، وهو مما يؤكد على أهميتها ، وقد ثبت وجوبها بالكتاب والسنة والإجماع
Allah menggandengkan kewajiban zakat dengan kewajiban shalat dalam banyak ayat. Hal ini menunjukkan betapa urgennya zakat. Dalil wajibnya zakat adalah al Qur’an, sunnah dan ijma’.
أما الضرائب التي تقررها الدولة وتفرضها على الناس ، فلا علاقة لها بما فرضه الله عليهم من زكاة المال
Sedangkan pajak yang ditetapkan dan diwajibkan negara atas rakyatnya itu sama sekali tidak memiliki hubungan dengan zakat mal yang Allah wajibkan.
والضرائب من حيث الجملة : هي التزامات مالية تفرضها الدولة على الناس ، لتنفق منها في المصالح العامة ، كالمواصلات ، والصحة ، والتعليم ، ونحو ذلك
Secara umum, pajak adalah kewajiban finansial yang diwajibkan negara atas rakyatnya. Sebagian uang pajak yang terkumpul akan digunakan untuk kepentingan umum semacam membangun sarana transportasi, kesehatan, pendidikan dll.
فالضرائب من وضع الناس وأنظمتهم ، لم يشرعها الله تعالى ، وأما الزكاة فهي شريعة ربانية ، وعبادة من أعظم عبادات الإسلام
Pajak adalah kewajiban dan aturan buatan manusia yang tidak pernah Allah syariatkan. Sedangkan zakat adalah aturan Allah dan salah satu ibadah agung yang ada dalam Islam.
وبعض الناس لا يخرج زكاة ماله اكتفاء بالضريبة التي يدفعها للدولة ، وهذا غير جائز، فالضرائب شيء ، والزكاة شيء آخر
Sebagian orang tidak mau membayar zakat dengan alasan karena telah merasa cukup dengan membayar pajak kepada negara. Inilah adalah alasan yang tidak bisa dibenarkan karena pajak dan zakat adalah dua hal yang berbeda.
قال علماء اللجنة الدائمة للإفتاء” :لا يجوز أن تحتسب الضرائب التي يدفعها أصحاب الأموال على أموالهم من زكاة ما تجب فيه الزكاة منها ، بل يجب أن يخرج الزكاة المفروضة ويصرفها في مصارفها الشرعية ، التي نص عليها سبحانه وتعالى بقوله : إنَِّماَ الصَّدقَاَت للِفْقُرَاَءِ واَلمْسَاَكيِن الآية” انتهى .فتاوى اللجنة الدائمة9/285
Para ulama yang duduk di Lajnah Daimah mengatakan, “Tidak diperbolehkan menilai pajak yang yang dibayarkan seseorang sebagai bagian dari zakat atas harta yang wajib dizakati. Wajib membayar zakat secara khusus dan menyalurkannya pada sasaran yang telah ditetapkan oleh syariat sebagaimana yang telah Allah firmankan yang artinya: “Zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir dan miskin…” (Qs. at Taubah: 60)” (Fatawa al Lajnah al Daimah 9/285)
والأصل في فرض الضرائب على الناس أنه محرم ، بل من كبائر الذنوب ، ومتوعد فاعله أنه لن يدخل الجنة ، وقد جاء في السنة النبوية ما يدل على أن الضريبة أعظم إثما من الزنا ، وقد سبق بيان ذلك في جواب السؤال رقم 39461
Pada asalnya mewajibkan pajak atas rakyat hukumnya haram bahkan termasuk dosa besar. Pelakunya terancam untuk tidak masuk surga. Dalam hadits disebutkan bahwa pemungut pajak itu dosanya lebih besar dari pada dosa zina.
وقد يجوز في حالات استثنائية أن تفرض الدولة ضرائب على الناس ، وفق شروط معينة ، منها:
Dalam kondisi darurat negara diperbolehkan untuk mewajibkan pajak atas rakyatnya asal memenuhi syarat-syarat tertentu. Di antaranya adalah sebagai berikut:
1- أن تكون عادلة , بحيث توزع على الناس بالعدل , فلا ترهق بها طائفة دون طائفة ، بل تكون على الأغنياء


Senin, 18 Juli 2016

Khutbah Idul Fitri

 IDUL FITRI
MOMENTUM MELAHIRKAN
KEFITRHAN MANUSIA YANG SEJATI
Oleh. Hasbullah, M.Pd.I
           

إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن.
يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
يَاأَيّهَا النَاسُ اتّقُوْا رَبّكُمُ الّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتّقُوا اللهَ الَذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَام َ إِنّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا
يَاأَيّهَا الّذِيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْلَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا، أَمّا بَعْدُ
فَأِنّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْىِ هَدْىُ مُحَمّدٍ صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّمَ، وَشَرّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةً، وَكُلّ ضَلاَلَةِ فِي النّارِ.




Alhamdulillah, puji syukur  kita sampaikan kehadirat Allah swt sebagai bukti kita cinta kepada Allah, sebagai bukti kita taat kepadaNya dan lebih lanjut kita bersyukur atas keberhasilan kita menjalankan ibadah puasa sebulan penuh. Dan semoga Allah swt menilai Ibadah puasa yang kita kerjakan sesuai dengan harapan Allah SWT dalam Ayat Al Qur’an surat Al Baqarah 183, dapat menjadikan kita sebagai orang yang taqwa (la’alakum tattaqun), yakni orang yang terpelihara dirinya dari segala sesuaitu yang tidak baik, bukan hanya pada waktu menjalan ibadah puasa dan ibadah-ibadah lainya yang bersifat individual-personal tetapi juga dalam kehidupan sosial-komunal.
Lebih lanjut mari kita bersholawat atas junjungan Nabi Muhammad saw sebagai  buktikan kasih dan sayang kepadanya, sebagai wujud kita adalah bagian dari rasul, sebagai bukti kita menjalankan apa yang telah dicontohkan melalui sunah sunahnya. Nabi Muhammad adalah orang yang adil dalam mengambil keputusannya, yang lembut tutur katanya, yang indah bacaan Al Qur’annya, dan semoga  kita mendapatkan safaat di akhirat dan  dimasukkan  kesurganya Allah swt. Amiin
Kemudian, sebagai khatib pada kesempatan Idul Fitri 1437 H ini, perkenankan kami mengingatkan diri pribadi dan segenap jamaah sekalian untuk senantiasa meningkatkan nilai-nilai ketaqwaan kepada Allah Swt. Marilah peningkatan taqwa ini kita jadikan sebagai agenda hidup yang utama, agar kita menjadi manusia ideal menurut Islam. Yakni, menjadi manusia mulia dan dimuliakan oleh Allah Swt sebagaimana firman-Nya:
4 ¨bÎ) ö/ä3tBtò2r& yYÏã «!$# öNä39s)ø?r&
Artinya: “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di hadapan Allah adalah orang yang paling bertaqwa.” (Qs. Al-Hujurat, 49:13)
Dewasa ini, sedikit orang yang menjadikan taqwa sebagai agenda hidupnya, yaitu menjalani hidup di bawah naungan syari’at Allah. Kebanyakan manusia, program hidupnya adalah hal-hal duniawiah: bisnisnya lancarnya, anak-anaknya dapat sekolah tinggi, deposito bank terus bertambah, rumah dan kendaraan tercukupi dan semacamnya. Tidak berupaya, bagaimana menjadikan hidupnya bermakna untuk dunia-akhiratnya, dan menjadikan anak-anaknya hidup dewasa dalam ketaatan pada Allah Swt. Maka marilah kita bersungguh-sungguh di dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah,  semoga amalan kita di bulan Ramadhan yang baru saja berlalu, kelak menjadi saksi yang menguntungkan dan meringankan beban kita di akhirat.
Allaahu akbar, Allaahu akbar wa lillaahil hamd
Hadirin Jamaah Idul  Fitri yang dimuliakan Allah SWT.

Jikalah idul fitri dimaknai sebuah kemenangan sejatinya idul fitri adalah kemenangan yang akan menaghadirkan peperangan yang dahsyat yaitu peperangan untuk melawan hawa nanfsu selama sebelas bulan tanpa pengkondisian dari Allah swt.
Jikalah Idul Fitri menjadi pemisah kita dengan ramdahan maka sejatinya kita telah berpisah dengan keistiwaan sebuah ibadah, kita telah berpisah dari kasih sayang Allah yang maha dasyat dan kita telah berpisah dengan nilai-nilai ibadah yang tak ternilai dengan angka amalannya.
Jikalah idul fitri menjadikan hari yang bernilai fitrah atau kesucian maka sejatinya kefitraah  itu hanya terletak kepada mereka yang menjalan ibadah puasa, menghidupakan suasana ramdahan, dan mereka menjalankan puasa dengan penuh keimanan dan keikhlasan.
Jamaah idul fitri yang di Muliakan Allah swt
Maka sungguh indah dan bahagia bagi mereka yang hari ini merasakan ramadhan masih berasa dalam hatinya, harumnya ramadhan masih terpaut dalam pakainya, dan keinginan untuk beribadah dalam ramdhan dibawa keluar ramdhan maka sejatinya orang yang beriman itu  mereka yang mendapat petunjuk dan beruntung dari Allah swt, sebagaimana firman Allah
y7Í´¯»s9'ré& 4n?tã Wèd `ÏiB öNÎgÎn/§ ( y7Í´¯»s9'ré&ur ãNèd šcqßsÎ=øÿßJø9$# ÇÎÈ
Artinya: Mereka Itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung (QS. Al Baqarah: 5).
Petunjuk dan keberuntungan yang Allah sampaikan dalam ayat tersebut adalah bagi mereka yang telah melaksanakan rangkaian kegiatan yang mebuktikan dirinya cinta kepada Allah dan rasulnya salah satunya adalah Puasa Ramdahan. Sehingga keberuntungan untuk mereka yang berpuasa sesuai dengan apa yang dijelaskan Allah dan dituntunkan oleh rasulullah maka mereka akan  mendapatkan kesucian atau fitrah dari Allah swt. Fitrah kemanusian dapat melahirkan insan fitri apabila dikesucian dan kekuatan dikembangkan, sehigga Idul Fitri pada hari ini dilakukan untuk merayakan kemenangan dalam rangka mengendalikan hawa nafsu selama bulan Ramadhan untuk sebuah kesucian. Kesucian itu terlihat dari proses yang telah kita lakukan yaitu mampu mengendalikan hawa nafsu dengan puasa selama satu bulan.
Hawa nafsu akan berakibat pada keburukan dan manusia yang mengikuti hawa nafsu akan terjebak dalam kekejian, kemungkaran, dan kezaliman. Akibat dari mengikuti hawa nafsu, akan terjadi kerusakan moral dalam masyarakat yang dapat meruntuhkan kehidupan bangsa. Padahal  bangsa Indonesia yang memiliki modal sosial dan modal budaya yang  saat ini mengalami pergeseran dan perubahan. Penguasaan atas nafsu diri dapat terlihat dari ahlak manusia.  Ahlak yang baik dapat mengantarkan manusia pada kemenangan. “Ada pepatah arab yang mengatakan, dengan ahlak baik suatu bangsa bisa tegak. Tapi dengan ahlak buruk suatu bangsa bisa rapuh. Allah Berfirman:  
|M÷ƒuäur& Ç`tB xsƒªB$# ¼çmyg»s9Î) çm1uqyd |MRr'sùr& ãbqä3s? Ïmøn=tã ¸xÅ2ur ÇÍÌÈ
Artinya: Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya (QS. Al Furqon 43)
Allaahu akbar, Allaahu akbar wa lillaahil hamd
Hadirin Jamaah Idul  Fitri yang dimuliakan Allah SWT.

Perjuangan melaksanakan ibadah di bulan Ramadhan bukan perkara kecil. “Perjuangan saat Ramadhan adalah jihad yang besar dan sulit dilakukan. Sebab setiap orang harus mampu mengendalikan hawa nafsunya,” tapi karena rahamat Allah swt kita mampu sampai pada ujung ramdahan yaitu idul fitri.  Adapun tujuan ibadah pada Ramadhan adalah terbentuknya ahlak yang mulia. Bukan sekedar tamat puasa. Maka itu setelah Idul Fitri ini, diharapkan ahlak umat Muslim dapat menjadi lebih baik dari sebelumnya. Sehingga bisa menjalankan keislamannya dengan prinsip wasatiah atau pertengahan.
Islam adalah agama yang moderat. Juga agama yang berkemajuan dan berwawasan jalan tengah. Karena itu seorang Muslim sudah seharusnya teguh pada syariah, tapi juga memiliki toleransi yang baik. Islam juga dinamis dan tidak stagnan. “Sebab Rasulullah sendiri menyampaikan, seorang muslim hari ini harus hidup lebih baik dari pada hari kemarin,” Islam yang baik atau dapat di katakan Islam berkemajuan menuntut setiap pemeluknya untuk merdeka. Islam harus bebas dari kemiskinan,  kebodohan, diksrimanasi, kezoliman serta bersbas dari korupsi kulusi dan nepotisme,   maka agar jauh dari hal buruk tersebut seorang Muslim harus memiliki hubungan yang baik dengan Allah SWT dan sesamanya.
Idul Fitri pada hakikatnya memberikan pesan kepada kita, bahwa syari’at Islam mengajarkan kepada kesucian, keindahan, kebersamaan dan mengarahkan umatnya memiliki kepedulian sosial yang tinggi. Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing, duduk sama rendah berdiri sama tinggi, rukun dalam kebersamaan dan bersama dalam kerukunan. Segala kelebihan yang melekat dalam diri manusia dalam bentuk apapun, hendaknya disadari bahwa selain merupakan nikmat, ia juga sekaligus sebagai amanat.
Perbuatan yang indah akan melahirkan seni dan estetika, dan seni akan menghasilkan kreatifitas yang membangun dan menyejukkan. Perbuatan baik akan menimbulkann etika dan menciptakan tatanan kehidupan yang tertib dan harmonis, sementara kebenaran akan menghasilkan ilmu pengetahuan yang mengantarkan kemajuan peradaban umat manusia. Karenanya perubahan ke arah yang lebih baik hanya akan dapat diwujudkan oleh pribadi-pribadi yang dalam dirinya telah bersemi ke-Fitrah-an.
Karena Fitrah manusia dapat berubah dari waktu ke waktu berubah karena pergaulan, karena pengaruh budaya dan lingkungan, karena latar belakang pendidikan dan karena faktor-faktor lain, maka agar Fitrah itu tetap terpelihara kesuciannya, hendaknya ia selalu mengacu pada pola kehidupan Islami yang berlandaskan Al-Qur’an, As-Sunnah dan teladan para ulama, pola kehidupan yang bersendikan nilai-nilai agama dan akhlak mulia, sehingga darinya diharapkan mampu membangun manusia seutuhnya, insan kamil yang memiliki keteguhan iman, keluasan ilmu pengetahuan serta tangguh menjawab berbagai peluang dan tantangan kehidupan.

Karena itu, segala kebiasaan baik yang telah kita lakukan di bulan suci Ramadhan, baik ibadah shiyam, qiyamullail, tilawah dan tadabbur Al-Quran, peduli kaum dluafa, mengendalikan amarah dan hawa nafsu, menjaga kejujuran hendaknya tetap kita lestarikan dan bahkan kita tingkatkan sedemikian rupa agar dapat menjadi tradisi yang mulia dalam diri, keluarga dan lingkungan masyarakat kita, sehingga Fitrah yang telah kita raih di hari yang agung ini akan tetap terpelihara hingga ahir kehidupan kita.
Allaahu akbar, Allaahu akbar wa lillaahil hamd
Hadirin Jamaah Idul  Fitri yang dimuliakan Allah SWT.

Saat ini nilai-nilai moral bangsa Indonesia sudah banyak bergeser. Yang dulu ramah, sekarang jadi mengedepankan kekerasan. Bahkan banyak orang yang tega membunuh sesamanya. Banyak pula anak muda yang terjebak dalam fanatisme agama. Sehingga nilai toleransi dalam diri mereka hilang. Hal ini sering kali menimbulkan kekerasan fisik di tengah masyarakat. Indonesia adalah bangsa pejuang. Maka itu mereka mampu bertahan dalam penjajahan selama tiga setengah tahun yang dengan bukti adalah kita hari ini dapat menjalankan ramdahan dengan kebaikan dan bisa mensyukuri kenikmatan Allah dengan menjalan ibadah syawal dengan sholat Idul fitri.
Idul Fitri merupakan momen yang tepat untuk Muslim kembali pada kesucian dan kekuatan. Sebab manusia sendiri dilahirkan ke muka bumi dalam kondisi suci tanpa dosa. “Bahkan saat ruh kita ditiupkan ke dalam rahim, kita sudah terikat janji suci dengan kesaksian mengesakan Allah SWT. Sebagaimana Firman Allah SWT
øŒÎ)ur xs{r& y7/u .`ÏB ûÓÍ_t/ tPyŠ#uä `ÏB óOÏdÍqßgàß öNåktJ­ƒÍhèŒ öNèdypkô­r&ur #n?tã öNÍkŦàÿRr& àMó¡s9r& öNä3În/tÎ/ ( (#qä9$s% 4n?t/ ¡ !$tRôÎgx© ¡ cr& (#qä9qà)s? tPöqtƒ ÏpyJ»uŠÉ)ø9$# $¯RÎ) $¨Zà2 ô`tã #x»yd tû,Î#Ïÿ»xî ÇÊÐËÈ
Artinya:Dan (in gatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku Ini Tuhanmu?" mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuban kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap Ini (keesaan Tuhan)" (QS. Al-A’araf ayat 172)
Dengan demikian, manusia dilahirkan ke dunia dalam keadaan asal yang suci (fitrah) dan diasumsikan bahwa dia akan tumbuh dalam kesucian itu seadainya tidak ada pengaruh lingkungan,  selain itu Kita juga patut bersyukur bahwa dengan telah selesainya menjalannkan Ibadah Puasa kita telah kembali kepada Fitrah, kepada kesucian. Firman Allah dalam Surat Ar Rum ayat 30
óOÏ%r'sù y7ygô_ur ÈûïÏe$#Ï9 $ZÿÏZym 4 |NtôÜÏù «!$# ÓÉL©9$# tsÜsù }¨$¨Z9$# $pköŽn=tæ 4 Ÿw Ÿ@ƒÏö7s? È,ù=yÜÏ9 «!$# 4 šÏ9ºsŒ ÚúïÏe$!$# ÞOÍhŠs)ø9$#  ÆÅ3»s9ur uŽsYò2r& Ĩ$¨Z9$# Ÿw tbqßJn=ôètƒ ÇÌÉÈ
Artinya:Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang Telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.
Yang dimaksud dengan fitrah Allah bahwa manusia diciptakan Allah mempunyai naluri beragama yaitu agama tauhid. kalau ada manusia tidak beragama tauhid, Maka hal itu tidaklah wajar. mereka tidak beragama tauhid itu hanyalah lantara pengaruh lingkungan.
Allaahu akbar, Allaahu akbar wa lillaahil hamd
Hadirin Jamaah Idul  Fitri yang dimuliakan Allah SWT.

Maka bila kita fahami lebih jauh bahwa dengan kefitrhan manusia yang ada seharusnya tidak ada lagi kerusakan dan penghinaan terhadap Islam itu sendiri. Maka kerusakan yang terjadi dibumi ini di luar keinginan Allah dari proses penciptaannya.
tygsß ßŠ$|¡xÿø9$# Îû ÎhŽy9ø9$# ̍óst7ø9$#ur $yJÎ/ ôMt6|¡x. Ï÷ƒr& Ĩ$¨Z9$# Nßgs)ƒÉãÏ9 uÙ÷èt/ Ï%©!$# (#qè=ÏHxå öNßg¯=yès9 tbqãèÅ_ötƒ ÇÍÊÈ
Artinya: Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan Karena perbuatan tangan manusi, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (QS Arum 41

Maka dari hal ini Allah swt tetap menjaga dan merawat kefitrahan manusia, karena kefitrahan atau kesucian adalah milik umat yang lahirkan sejatinya manusia. Sehingga dalam menjaga dan merawatnya Allah akan selalu memperhatikan dan menjaga bahkan mencatat dari setiap yang kita lakukan. Maka Allah melakuka pegawasan adalah dalam rangka melindungi serta memberi suppoot untuk merawat kefitrahan dengan cara peningkatan nilai-nilai ibadah dan nilai-nilai akhlakul karimah.

Kefitrahan yang di jaga oleh Allah swt itu dalam rangka untuk menunjukkan sejatinya manusia di kehidupan dunia ini sebagai kendaraan, sebagai alat, sebagai cara Allah kepada manusia untuk mendapatkan kehidupan yang bahagia setalah kehidupan di dunia ini. Manusia yang sejati dalam pemahaman Allah swt yang disampaikan dalam Al-Qur’an

Pertama dalam QS. Al Baqarah 30

øŒÎ)ur tA$s% š/u Ïps3Í´¯»n=yJù=Ï9 ÎoTÎ) ×@Ïã%y` Îû ÇÚöF{$# ZpxÿÎ=yz ( (#þqä9$s% ã@yèøgrBr& $pkŽÏù `tB ßÅ¡øÿム$pkŽÏù à7Ïÿó¡our uä!$tBÏe$!$# ß`øtwUur ßxÎm7|¡çR x8ÏôJpt¿2 â¨Ïds)çRur y7s9 ( tA$s% þÎoTÎ) ãNn=ôãr& $tB Ÿw tbqßJn=÷ès? ÇÌÉÈ
Artinya: Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui." (QS. Al Baqarah 30

Sungguh dari ayat di ayat kita semua dapat saksikan bahwa Allah swt sayang kepada kita, Allah swt memberikan kelebihan kepada kita atas apa yang telah diberikan Allah kepada makhluk-makhluk yang terdahu Allah ciptakan. Dengan firman dan meyakinkan malaikat Allah memberikan kepercayaan kepada manusia menjadi pemimpin, pengatur dan wakil Allah untuk mengatur, mengkondisikan atas isi dunia ini. Dengan lantang Allah menjawab kerguan malaikat dengan kata-kata yang dahsyat  “sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”. Maka ketauhilah wahai manusia ada potensi yang pada diri manusia yang telah Allah berikan kepada kita sehingga kita mampu menjadikan dunia ini lebih baik yaitu potensi kesucian, potensi kefitrahan yang  Allah berikan sejak manusia belum lahir dimuka bumi ini dan ini menjadi rahasia Allah.

Kedua QS. Adz Zariyat 56

$tBur àMø)n=yz £`Ågø:$# }§RM}$#ur žwÎ) Èbrßç7÷èuÏ9 ÇÎÏÈ
Artinya: Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.

Terlihat jelas dari ayat di atas sejatinya keberadaan manusia itu tidak lain hanya bagaimana memposisikan diri untuk  istiqomah beribadah kepada Allah swt dengan cara apapun dalam keadaan bagaimanapun. Maka ibadah akan menjadi tolak ukur penilain Allah kepada manusia, ibadah akan menajdi salah satu cara kita untuk mengejar rahmat dan mengemis ampunan kepada Allah. Ibadah atau pengabdian kepada Allah merupakn wujud terima kasih kita kepadala Allah, wujud bahwa kita cinta dan sayang kepadanya dan wujud bahwa kita adalah manusia yang harus dapat naungan di hari pembalasan pada waktunya nanti. Dan untuk membuktikan cintanya Allah kepada manusia yang beriman dalam rangka menjada ibadah atau ketaatan kepadaNYa maka Allah menjadikan ramadhan menjadi media Allah untuk meningkatkan kualitas ibadah kita, menjadikan nilai tambah ibadah kita pada padaNya dan utuk megingatkan kesombongan manusia padanya serta yang paling penting adalah Allah memberikan kekayaan Amal kepada manusia yang beriman kepadaNYa. 

Allaahu akbar, Allaahu akbar wa lillaahil hamd
Hadirin Jamaah Idul  Fitri yang dimuliakan Allah SWT.

Sebelum mengakhiri khutbah ini, kami ingin memberikan nasihat kepada kaum wanita, sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memberikan nasihat kepada para wanita. Hendaklah kaum wanita bertakwa kepada Allah Ta’ala pada urusan wanita itu sendiri. Hendaklah kaum wanita menjaga aturan-aturan Allah, memelihara hak-hak para suami dan anak-anaknya. Ingatlah! Wanita shalihah itu, ialah wanita yang taat dan menjaga apa yang harus dijaganya saat suami tidak ada. Seorang wanita jangan silau dan terpedaya dengan perilaku sebagian wanita yang senang keluar rumah (misal ke pasar, atau ke tempat lainnya) dengan dandanan norak, bau semerbak menusuk hidung, pamer kecantikan, atau dengan mengenakan pakaian tipis transparan. Ingatlah! Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Ada dua kelompok penduduk neraka yang belum pernah aku lihat (lalu beliau  menyebutkan) wanita berpakaian tetapi telanjang, berjalan dengan lenggak-lenggok, kepala mereka bagaikan leher unta meliuk-liuk. Mereka tidak masuk surga dan tidak mendapatkan aroma surga. (H.R. Muslim).

Sehingga, jika seorang wanita terpaksa harus pergi ke pasar, maka berjalanlah dengan tenang, jangan berdesakan dengan kaum lelaki, jangan bersuara keras, dan jangan pula mengenakan pakaian yang dibenci pada anakmu, dan begitu pula jangan meniru pakaian kaum lelaki. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat perempuan yang meniru kaum laki-laki, dan juga kaum laki-laki yang meniru gaya kaum perempuan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan kaum wanita,

Aku melihat kebanyakan penghuni neraka itu adalah kalian. Kalian sering melaknat dan kufur terhadap suami. (H.R. al Bukhari Muslim).

Akhirnya, semoga Allah SWT senantiasa berkenan membimbing kita semua agar tergolong hamba-hambanya yang mampu meraih sertifikat kefitrahan di hari kemenangan yang agung ini, sehinnga kita layak mendapatkan penghargaan , Semoga Allah SWT berkenan mencurahkan rahmat-Nya kepada bangsa Indonesia serta umat Islam pada umumnya untuk senantiasa mengamalkan syariat-Nya, menghidupkan sunnah-sunnah Rasul-Nya
Semoga momentum Idul Fitri ini juga benar-benar mampu mengantarkan tatanan kehidupan kita yang berlandaskan nilai-nilai agama, akhlakul karimah, kebersamaan dan kasih sayang guna terwujudnya ummat dan masyarakat Indonesia yang berharkat dan bermartabat, sejahtera dan berperadaban, baldatun thayyibatun warabbun ghafur, bangsa yang gemah ripah lohjinawi di bawah naungan ridla Allah SWT. Amin,
Marilah kita tutup khutbah singkat ini dengan doa, memohon kepada Allah SWT, yang maha pemurah dan maha penyayang karena hanya Dialah yang maha pengabul atas segala doa-doa.
اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلىَ اَلِ مُحَمَّدٍ. كَمَاصَلَّيْتَ عَلىَ اِبْرَاهِيْمَ وَعَلىَ اَلِ ا اِبْرَاهِيْمَ. وبارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيمفِي الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌمَجِيْدٌ.اَللّهُمَّ اغْفِرْلِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلاَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ بِرَحْمَتِكَ يَاوَاهِبَ الْعَطِيَّاتِ. اَللّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّاالْغَلاَءَ وَالْوَبَاءَ وَالرِّبَا وَالزِّنَا وَالزَّلاَزِلَ وَالْمِحَنَ. وَسُوْءَالْفِتَنِ مَاظَهَرَمِنْهَا وَمَابَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا هَذَاخَاصَّةً وَعَنْ سَائِربَلاَدِالْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَارَبَّ الْعَالَمِيْن.
Éb>u þÎoTÎ) èŒqããr& šÎ/ ÷br& šn=t«ór& $tB }§øŠs9 Í< ¾ÏmÎ/ ÖNù=Ïã ( žwÎ)ur öÏÿøós? Í< ûÓÍ_ôJymös?ur `à2r& z`ÏiB z,`ƒÎŽÅ£»yø9$#. !$oY­/u $¨YtB#uä öÏÿøî$$sù $uZs9 $uZ÷Hxqö$#ur |MRr&ur çŽöyz tûüÏH¿qº§9$# # t!$oY­/u !$oY¯RÎ) $¨YtB#uä öÏÿøî$$sù $uZs9 $oYt/qçRèŒ $uZÏ%ur z>#xtã Í$¨Z9$# !$oY­/§ $oY¯RÎ) $oY÷èÏJy $ZƒÏŠ$oYãB ÏŠ$oYムÇ`»yJƒM~Ï9 ÷br& (#qãYÏB#uä öNä3În/tÎ/ $¨YtB$t«sù 4 $oY­/u öÏÿøî$$sù $uZs9 $oYt/qçRèŒ öÏeÿŸ2ur $¨Ytã $oYÏ?$t«Íhy $oY©ùuqs?ur yìtB Í#tö/F{$# , $oY­/u $oYÏ?#uäur $tB $oY¨?tãur 4n?tã y7Î=ßâ Ÿwur $tRÌøƒéB tPöqtƒ ÏpyJ»uŠÉ)ø9$# 3 y7¨RÎ) Ÿw ß#Î=øƒéB yŠ$yèŠÎRùQ$#  $uZ­/u öÏÿøî$# $uZs9 $oYt/qçRèŒ $oYsù#uŽó Î)ur þÎû $tR̍øBr& ôMÎm6rOur $oYtB#yø%r& $tRöÝÁR$#ur n?tã ÏQöqs)ø9$# tûï͍Ïÿ»x6ø9$# , Éb>u ó=yd Í< $VJò6ãm ÓÍ_ø)Åsø9r&ur šúüÅsÎ=»¢Á9$$Î/ , @yèô_$#ur Ík< tb$|¡Ï9 5-ôϹ Îû tûï̍ÅzFy$# tÉb>u ÎoTÎ) àMôJn=sß ÓŤøÿtR öÏÿøî$$sù Í< txÿtósù ÿ¼ã&s! 4 ¼çm¯RÎ) uqèd âqàÿtóø9$# ÞOŠÏm§9$# $uZ­/u Ÿw $uZù=yèøgrB ZpuZ÷FÏù ÏQöqs)ù=Ïj9 šúüÏJÎ=»©à9$# $oYÅngwUur šÏGoHôqtÎ/ z`ÏB ÏQöqs)ø9$# tûï͍Ïÿ»s3ø9$# !$oY­/u $oYÏ?#uä Îû $u÷R9$# ZpuZ|¡ym Îûur ÍotÅzFy$# ZpuZ|¡ym $oYÏ%ur z>#xtã Í$¨Z9$#
عِبَادَالله اِنَّ اللهَ يَأْمُرُبِالْعَدْلِ وَاْلاِحْسَانِ وَاِيْتَاءِذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْىِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ فَاذْكُرُوااللهَ الْعَظِيْمِ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ. وَلَذِكْرُاللهِ اَكْبَرُ